Jakarta dan Kota Tua-nya…

Hampir lima tahun hidup merantau dan kerja di Jakarta, kesan yang saya rasakan… kota ini semakin macet saja. Jakarta semakin padat merayap, sebagian besar waktu habis terbuang di jalan. Dari Kalibata ke Pancoran saja kadang makan waktu 1 jam, padahal jaraknya dekat. Pernah pula saya menghabiskan waktu 3 jam cuma dari bandara Soeta ke Pasar Minggu, which is kalau perginya Subuh (alias jalanan lancar) itu cuma ditempuh kira-kira 40 menit.

Saya sendiri bukan penduduk asli Jakarta. Sebagai warga yang numpang hidup di Jakarta, masalah Jakarta dari dulu ya itu-itu saja: macet & banjir! Semua ada di Jakarta, mungkin karena ini orang berbondong-bondong menyesaki Jakarta..

Ratusan mall megah berdiri, apartemen berjumlah puluhan lantai marak dibangun, semakin banyak mobil pribadi yang bertambah. Sementara taman terbuka menghilang satu persatu, transportasi umum tidak memadai. Sebagai pengguna transportasi umum, kehadiran busway cukup bisa diandalkan menurut saya. Tapi itu pun kondisi busway sekarang makin tak terawat. Belum lagi kondisi penuh sesak di dalam busway (pagi hari), menandakan masyarakat butuh lebih banyak angkutan umum.

Ah tapi kalau boleh komentar, dari sekian banyak kota yang sudah pernah saya singgahi, kota yang menurut saya membekas di hati dan bikin pengen balik lagi itu ada 2 (sementara): Jogja dan Bandung. Entah kenapa, Jogja seperti punya aura mistis yang bikin saya selalu kangen dengan suasana di kota itu. Atau Bandung yang selalu bikin saya ‘feel home’, meski sekarang juga macet kalau weekend karena kebanjiran pendatang dari Jakarta yang mau refreshing.

Kota Tua yang klasik

Ngomong-ngomong soal Jakarta, ada sebuah kawasan di Jakarta yang terkenal dengan landmark-nya. Apalagi kalau bukan Kota Tua. Ya, datanglah ke sini kalau ingin merasakan ‘aura’ masa lalu. Disebut Kota Tua karena bangunan di sini memang tua, beberapa bangunan tua peninggalan Belanda masih dipertahankan.

Tempat ini, khususnya Taman Fatahillah, bahkan sudah menjadi ikon wisata ‘murah meriah’ versi rakyat, atau sekedar tempat duduk-duduk dan berkumpul warga/komunitas. Tempat ini sekarang sering dijadikan sebagai pusat kegiatan, mulai dari pertunjukan dan pembuatan film.

Mereka yang hobi foto pasti pernah hunting objek di kawasan ini. Banyak pula pasangan kekasih (calon suami istri) yang mengabadikan foto-foto prewedding mereka di sini.

Kegiatan perdagangan juga terjadi di kawasan ini, mulai dari dagang balon/mainan anak, elektronik sampai penyewaan sepeda jadul (sepeda onthel) yang dicat warna-warni sehingga nampak lebih cantik lengkap dengan topi berwarna-warni.

Sulit mendapatkan tempat publik seperti ini di Jakarta, mengingat saat ini mall-mall mendominasi Jakarta. Semoga kawasan ini akan tetap menjadi kawasan terbuka untuk publik.

Beberapa spot yang menarik untuk difoto/dikunjungi di sini antara lain: Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bank Indonesia, Stasiun Jakarta Kota, Museum Bahari, Cafe Batavia.

-dew-

4 Comments

  1. Yang saya seneng sekarang melihat sepeda2 tua, mengingatkan waktu kecil dan ngga mudah lupa disamping harus menghirup udara hitam. Kota tua, tapi sayang ditempat saya sudah banyak yang memodifikasinya menjadi modrenisasi 🙁

    Reply

Leave a Comment.