Museum Tsunami Aceh

Lama nggak update blog, akhirnya hari ini bisa ngeblog lagi. Bukan karena malas, tapi beberapa minggu belakangan ini saya keluar kota terus. Salah satunya ke Aceh. Dari Aceh saya bawa oleh-oleh cerita nih, tentang museum tsunami Aceh.

Museum ini terletak di kota Banda Aceh, tak jauh dari Mesjid Raya Banda Aceh yang terkenal itu, kira-kira 1km. Dibangun untuk mengenang tragedi bencana tsunami di bumi Serambi Mekah 26 Desember 2004 lalu, yang sebelumnya diguncang gempa berkekuatan 8,9SR dan menelan korban jiwa kurang lebih 240 ribu orang.

Museum Tsunami Aceh dibangun di atas lahan seluas 10ribu persegi. Dari depan, bangunan museum ini tampak sangat kokoh dengan konsep disain rumah panggung Aceh. Soal disain akan kita bahas nanti. Saya akan mengajak Anda memasuki gedung berlantai 3 ini. Oya dilarang bawa tas ke dalam gedung. Jadi titipkan tas ke tempat penitipan yang tersedia.

Mendekati pintu masuk museum yang berada di lantai 1, di sebelah kiri kita akan melihat helikopter polisi yang rusak diterjang tsunami.

Lalu kita akan menjumpai lorongΒ  yang agak gelap yang hanya diterangi sedikit lampu agar bisa melihat, itupun lampunya remang-remang.

Lorong ini dinamakan dengan Lorong Tsunami. Ketika melewati lorong, kita sengaja dibuat sedikit merinding. Selain suasananya yang remang, juga terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Dari kedua sisi dinding lorong yang tinggi ini mengalir air dan terdengar gemuruh sehingga baju kita pasti akan sedikit basah terkena percikan air-air ini. Katanya, lorong ini melambangkan air tsunami yang datang.

Lorong Tsunami

Setelah melewati lorong, kita akan dibawa ke Memoriam Hall. Disini kita bisa melihat rangkaian peristiwa di berbagai daerah di Aceh yang diterjang tsunami dalam bentuk foto. Selanjutnya kita akan menjumpai ruangan bernama Sumur Doa. Di sini seolah-olah kita berada di dasar sumur. Sisi-sisi dinding sumur ini dipenuhi tulisan nama-nama korban tsunami yang berhasil diidentifikasi. Dan bagian atas sumur (bagian langit) tertulis tulisan arab ALLAH.

Dari sumur, kita akan dibawa menuju lorong bernama lorong kebingungan. Konsepnya adalah lorong ini mencoba menggambarkan suasana masyarakat Aceh yang kebingungan pada saat musibah tsunami datang, bingung mencari saudara yang hilang dan mencari tempat untuk menyelamatkan diri. Di bagian ujung lorong, kita akan melihat sebuah jembatan yang agak menanjak bernama jembatan perdamaian dan sampailah kita di lantai 2.

***

Ada apa di lantai 2?

Di sini terdapat sebuah lobi buat para pengunjung yang ingin duduk beristirahat. Ada TV dan miniatur bangunan museum tsunami. Di lantai ini juga terdapat ruang audiovisual buat pengunjung yang mau melihat film dokumenter peristiwa gempa tsunami Aceh, dan beberapa ruangan berisi rekam jejak kejadian tsunami 2004 lalu antara lain foto-foto peristiwa tsunami, artefak kejadian tsunami dan diorama. Salah satunya diorama kapal PLTD Agung yang terdampar ke daratan dan kapal nelayan yang diterjang gelombang tsunami.

Di lantai 3 kita akan mendapati perpustakaan, ruang alat peraga seperti misalnya rancangan bangunan tahan gempa dan toko souvenir.

Tentang Disain Bangunan Museum

Menurut info yang saya baca di gedung tersebut, museum tsunami Aceh dibangun dengan konsep dan disain “Rumoh Aceh as escape hill“, yaitu konsep rumah panggung Aceh yang berfungsi untuk menyelamatkan diri, sea waves (gelombang tsunami), tari Saman (bisa dilihat dari relief atau ukiran bangunan), cahaya Allah (The light of God) serta taman terbuka yang didesain sebagai ruang penampung (shelter) pada saat terjadi bencana.

Oya, museum ini juga dijadikan sebagai pusat evakuasi bencana seandainya bencana (tidak hanya tsunami) menimpa Aceh.

Foto by: dewningrum.com

Nama : Museum Tsunami Aceh
Lokasi : Jalan Sultan Iskandarmuda, di seberang lapangan Blang Padang kota Banda Aceh
Jam buka : Senin-Kamis jam 9 – 12 , Sabtu-Minggu 14 – 16.30
Biaya masuk : gratis

-dew-

15 Comments

  1. @iman:
    sayangnya pas ke aceh waktu itu saya cuma sebentar, jadi gak sempat ke pantai2nya.. ihiks.. sukses ya hunting infonya πŸ™‚

    Reply
    • sekarang aceh bukanlah seperti dulu lagi sekarang aceh dah aman jadi kapanpun kita mau pigi sudah bisa,apalagi kalo kita pergi kesabang tempat wisata

      Reply
  2. Melihat miniatur jadi keringat dingin. Dulu sempat mengguncang Medan yang hampir merobohkan rumah saya. Dan, kerabat teman banyak yang menjadi korban. Saya belum sempat kesana, kabarnya museum itu bgus ya? πŸ˜€

    Reply

Leave a Comment.