Pantai Lasiana & Potret Anak Penjual Nira di Kupang

Dulu, pantai ini begitu ramai didatangi pengunjung. Begitu yang saya dengar dari orang-orang setempat. Sebagian besar warga Kupang sering berwisata ke sini, juga turis-turis asing dari berbagai negara. Mereka bermain, berenang, berselancar, berjemur, duduk-duduk…

Pantai ini masih sangat alami, bahkan sampai sekarang.. Setidaknya ketika saya mengunjungi Pantai Lasiana ini Desember 2010 lalu, waktu itu saya ke Kupang dalam rangka memberikan pelatihan mengenai bisnis online kepada UKM dan Koperasi di sana. Tapi kini, pantai ini jauh dari kata ramai.. Tak terurus.. konon katanya karena hutan mangrove (bakau) nyaris habis akibat ditebangi oknum tak bertanggung jawab.

Karang laut perlahan mulai mati. Pohon kelapa pun mulai tumbang satu persatu karena disapu ombak besar. Heii… kemana pemda NTT? Saya tak tahu.. Sepertinya pemerintah kita memang tak mampu mengelola potensi wisata yang ada, apalagi mengembalikan Lasiana seperti dulu.

Saya pun tak tau, mengapa investor tampaknya enggan berinvestasi disini.. karena rumitnya perizinan kah atau memang tidak ada tawaran menarik dari pemerintah? Ya sudahlah.. Walau sepi dan tak terurus, di tepi pantai ini masih berdiri dengan kokoh pohon-pohon tuak alias pohon lontar. Pohon-pohon ini secara rutin ‘disadap’ oleh rakyat setempat untuk diambil airnya, oleh rakyat setempat air ini disebut dengan air nira atau tuak.

Lucunya, aktivitas rakyat menyadap pohon nira ini justru jadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Kalau mau, kita bisa mencicipi air nira yang baru disadap dari pohonnya lho… Rasanya seperti air kelapa, tapi lebih manis.. 😀

Hasil sadapan nira ini sebagian dimasak di tungku yang terbuat dari tanah liat. Setelah berjam-jam dimasak, air nira berubah jadi gula merah yang manis. Banyak juga turis yang datang kesini untuk sekedar menikmati nira atau membeli gula merah sebagai oleh-oleh..

Ya, inilah mata pencarian rakyat di sekitar pantai tersebut. Menyadap nira, sebagian dijual airnya sebagian lagi diracik menjadi gula merah. Hidup sejahtera? Tentu tidak.. rumah mereka hanya terbuat dari papan yang sudah usang dengan atap dari daun rumbia dan lantai beralaskan tanah..

Di bawah ini adalah potret salah satu anak penjual nira/gula merah di Kupang yang sempat saya jepret, ketika itu saya datang ke rumahnya untuk melihat dapur pembuatan gula merah dan mencicipi air nira segar yang baru diambil dari pohonnya.

Oya, kalau ke Kupang, jangan lewatkan makan ikan laut yaaa.. ikan-ikan di sini benar-benar fresh dan dagingnya padat.. dibakar ataupun digoreng nikmat rasanya 🙂

-dew-

7 Comments

Leave a Comment.