Wat Pho, The Famous “Sleeping Budha” in Bangkok

Mau melihat The Sleeping Budha? Silakan mampir ke Wat Pho. Tiga hari yang lalu saya beruntung bisa menyambangi kuil ini. Wat Pho berlokasi tak jauh dari pelabuhan kapal Tha Tien.

Dari kawasan Siam, saya bersama teman-teman bertolak kesana dengan menaiki tuk-tuk, salah satu transport lokal di Bangkok. Kalau di Indonesia mirip bajaj, hanya saja tuk-tuk lebih besar, bisa muat 4 orang lho… impit2an tapinya hehe :p Cocok buat kamu yang suka wisata murmer ala backpack.


Sebenarnya ada banyak cara untuk mencapai Wat Pho, bisa naik taksi, tuk-tuk atau kalau mau merasakan sungainya Bangkok, bisa pilih naik kapal (publik atau private boat). Saya memilih naik kapal publik karena alasan petualangan dan kocek huehehehee, secara kesana emang ala backpackeran. Sang supir tuk-tuk mengantar kami ke dermaga N3 bernama “Si Phraya“. Dengan ongkos cuma 11 Bath (3ribuan Rupiah), kami menuju titik dermaga N8 bernama “Tha Tien“. Dari situ, cukup berjalan kaki saja untuk bisa sampai ke kuil yang juga dikenal dengan sebutan “Temple of Reclining Budha” ini.

Wat Pho merupakan candi Budha tertua dan terbesar di Bangkok. Kuil ini termasuk yang paling sering didatangi karena daya tarik yang ditawarkannya, yaitu patung Budha raksasa dalam posisi tidur. Wajah patung Budha ini miring ke kanan, tubuhnya dilapisi emas murni dengan ukuran panjang 46m dan tinggi 15m. Bagian bawah kaki Sang Budha tampak dihiasi dengan 108 adegan keberuntungan dalam gaya Cina dan India.

Dibanding candi-candi lain yang ada di Bangkok, di candi inilah kita bisa menjumpai banyak pagoda, yakni ada 99 pagoda. Pagoda ini konon dibangun sebagai tempat penyimpanan abu para raja-raja Thailand.

Wat Pho dibangun pada abad ke-17. Oleh Raja Rama I, kuil ini diperbesar dan dipasang banyak patung dan artefak lainnya. Raja Rama III lalu memperbesar kuil ini pada tahun 1832 dan menjadikannya sebagai pusat pembelajaran, termasuk membangun “The Sleeping Budha“.

Wat Pho juga dikenal sebagai tempat lahirnya pijat tradisional Thailand yang terkenal itu. Sebelum candi ini berdiri, tempat ini dulu dipakai sebagai pusat belajar pengobatan tradisional Thai dan pijat tradisional. Jadi tak heran jika banyak dijumpai patung Budha dengan posisi yoga.

Pada salah satu vihara kecil di dalam kawasan kuil ini, tampak puluhan gambar anatomi tubuh manusia yang ditulis di atas batu pualam, dilengkapi penjelasan teknik-teknik pijat pengobatan Thai.

Di bagian selatan komplek Wat Pho ini terdapat biara biksu Budha yang disebut dengan Tukgawee. Selain sebagai tempat sembahyang, biara ini juga berfungsi sebagai sekolah. Di sinilah para monk (biksu) biasa berkumpul dan berdoa, biasanya pada pagi dan sore hari.

Lokasi: Chetuphon Road, Bangkok – Thailand
Jam buka: 8 pagi – 5 sore
Tiket masuk: 50 Bath (untuk turis)

*pas masuk temple saya malah gak kena charge tiket masuk. Dibiarin aja nyelonong masuk sama petugasnya. Entah kenapa kok bisa lolos :)) tapi gak ada niat sedikitpun nyelonong lho :p

-dew-

11 Comments

  1. Kalo harga rata2 ngerti kok mereka… namanya juga pedagang hihiii..
    Tapi jangan lupa nawar ya, biasanya harganya dinaikin 2x lipat.. jadi harus pandai2 nawar 🙂

    Oiya pake kartu perdana sana aja biar lebih murah komunikasinya ke tanah air.. harga kartu perdananya sekitar 100 Bath.. bisa dibeli di 7eleven atau supermarket biasanya ada kok 🙂

    Reply
  2. waah klo twar pake bahasa indonesia gmn mba 🙂

    1 lagi mba : klo ingin mengunakan kartu perdana disana gmn. .?
    denger2 kan klo gunkan kartu perdana indo Rom cukup mahal tuh..:D

    Reply
  3. Kendalanya:
    1. Cari makan yang halal agak susah karena disana banyak yang jual makanan pake b*bi, kalau mau aman makan fast food atau di mall ada juga kok yang jual makanan halal / makanan indonesia..

    2. Sedikit yang bisa berbahasa Inggris, entah itu sopir taksi/tuktuk, penjual makanan/souvenir, dll.. tapi bukan berarti jadi susah kemana2 lho yaaa.. yang penting bawa peta dan tau tujuannya mau kemana.. jangan lupa nawar sebelum naik tuktuk ato beli barang 🙂

    Reply

Leave a Comment.